Saturday, 18 August 2012

Bambang Sutrisno and Hansen Sutrisno

Media about Bambang Sutrisno

http://www.thejakartapost.com/news/2011/08/12/ago-hunting-down-24-fugitives.html

AGO hunting down 24 fugitives

A- A A+
The Attorney General’s Office (AGO) said that they were still hunting down 24 fugitives suspected to be involved in corruption cases who have fled to countries close to Indonesia.

Deputy Attorney General Darmono, however, said the AGO had to “check again” on the actual whereabouts of the 24 fugitives.

He added that the AGO has held meetings, including on extradition agreements with certain countries, as an effort to bring the fugitives back to the country.

He further said that a team comprised of officers from the Coordinating Minister of Politics, Law and Security, the Law and Human Rights Ministry, the Foreign Ministry, the National Police and the AGO had been tasked with hunting down the fugitives.

The fugitives include figures linked with the Bank Indonesia liquidity support case, such as Kiki Ariawan, Adrianus Halim and Bambang Sutrisno.

“We have conducted investigations [on their location],” he said, as reported by tribunnews.com.

He added that China, Vietnam, Singapore and Australia were some of the countries the fugitives had fled to.

Second media

 http://m.hukumonline.com/berita/baca/hol5860/font-size1-colorff0000bsidang-blbi-bank-suryabfontbrmengaku-sakit-di-singapura-bambang-sutrisno-belum-bisa-diadili-iin-absentiai

Mengaku Sakit di Singapura, Bambang Sutrisno Belum Bisa Diadili In Absentia Sidang penyelewengan BLBI dengan terdakwa Bambang Sutrisno dan Adrian Kiki Ariawan kembali ditunda oleh majelis hakim PN Jakarta Pusat untuk menunggu kehadiran Bambang. Bambang tidak langsung diadili in absentia karena ada surat dari Rumah Sakit Siloam Gleneagles Singapura yang menyatakan Bambang menjalani operasi di sana.
Nay/APr
Dibaca: 825 Tanggapan: 0
PDF  Print  E-mail
Bambang Sutrisno yang selama ini dianggap tidak jelas keberadaannya, sehingga dipanggil melalui berbagai surat kabar, oleh JPU dinyatakan berada di Singapura. Dalam persidangan sebelumnya, majelis memerintahkan JPU agar memanggil Bambang dan menghadirkannya pada persidangan yang akan datang. 
Namun dalam persidangan hari ini (25/6), JPU Arnold Angkouw menyatakan pada majelis hakim bahwa jaksa telah melakukan langkah-langkah pemanggilan terhadap terdakwa, tetapi terdakwa tidak hadir dalam persidangan.
Angkouw menyatakan bahwa JPU telah memanggil Bambang melalui empat surat kabar, yaitu Harian Kompas pada 5 Juni 2002, The Jakarta Post pada 11 Juni 2002, Republika pada 11 Juni 2002, dan Media Indonesia pada 7 Juni 2002. Selain itu, JPU juga mengirimkan surat panggilan ke alamat Bambang, baik melalui kantor Kelurahan Kedoya Utara, Jakarta Barat maupun Kelurahan Jl. Kartini Jakarta Pusat.
Selain itu, JPU juga telah memanggil Bambang melalui Kedutaan Besar Indonesia di Singapura. Berdasarkan laporan kedutaan, staf Kedutaan pada Senin (17/6) telah menyampaikan surat panggilan tersebut  ke kediaman Bambang di 721 Bukit Timah Road Singapore. Namun, yang bersangkutan sedang berada di rumah sakit.
Keesokan harinya, Selasa (18/6), Gina Wijaya, istri Bambang Sutrisno datang ke Kedubes dan menandatangani surat pemanggilan tersebut. Gina juga memberikan surat dari RS Siloam Gleneagles Singapore yang menyatakan Bambang dirawat di RS tersebut.
Memanggil kembali Bambang
Terhadap keterangan tersebut, ketua majelis hakim Rukmini menyatakan bahwa majelis mengambil sikap untuk memanggil kembali Bambang Sutrisno dan Adrian Kiki Ariawan untuk menghadiri sidang selanjutnya. Baru setelah itu, majelis akan menentukan sikap.
Menanggapi sikap majelis, JPU sempat meminta agar sidang tetap dilanjutkan dengan pembacaan dakwaan. Pasalnya menurut JPU, pemanggilan terhadap terdakwa telah dilakukan secara sangat maksimal. Namun, terdakwa tidak juga mau hadir untuk menggunakan haknya.
Permintaan JPU tersebut ditolak oleh ketua majelis. Menurut Rukmini, karena keterangan yang diterima majelis menyatakan terdakwa sakit,  majelis berpendapat pantas dan patut terdakwa dipanggil sekali lagi dengan panggilan ke Singapura karena sudah jelas terdakwa ada di Singapura. Karena itu, persidangan ditunda sampai Senin (8/7) untuk memberi kesempatan pada terdakwa.
Dalam persidangan tersebut, hadir kuasa hukum Bambang Sutrisno, yaitu Argus Sagittayama dari kantor Prihartono and Partner. Namun, ketua majelis hakim tidak mengijinkan Argus duduk di kursi penasehat hukum.
"Majelis masih akan memanggil dan mengharapkan kehadiran terdakwa, maka kami kira belum relevan untuk melayani Anda. Karena terdakwa tidak ada, bagaimana kami mau melayani Anda," kata Rukmini.
Dokumen asli
Kepada hukumonline, Argus menyatakan bahwa ia berniat memberikan dokumen asli surat dari RS Siloam Gleneagles Singapore. Menurut Argus, sesuai surat dari rumah sakit, Bambang menjalani operasi kelenjar getah bening di rumah sakit tersebut dan harus dirawat di sana dari 17 Juni 2002 sampai 2 Juli 2002.
Namun JPU Arnold Angkouw seusai sidang mengatakan bahwa sesuai surat dari dokter RS Siloam Gleneagles yang telah diotentifikasi oleh Kedubes RI di Singapura, Bambang dirawat di RS tersebut karena menjalani operasi tumor di tenggorokan.
Terhadap perintah majelis untuk memanggil kembali Bambang di Singapura, menurut Arnold, panggilan tersebut cukup melalui Kedubes Indonesia di Singapura. "Kita kan punya perwakilan. Semua panggilan di luar negeri itu selalu melalui perwakilan RI di negara setempat," cetusnya.
Bambang Sutrisno didakwa menyelewengkan dana BLBI Bank Surya, sehingga merugikan negara sebesar Rp1,5 triliun. Bambang Sutrisno pada saat itu menjabat sebagai wakil presiden komisaris PT Bank Surya.
Sementara Adrian Kiki Ariawan merupakan direktur utama PT Bank Surya. Bambang dan Kiki dinilai bertanggungjawab atas pengucuran kredit dari dana BLBI kepada 103 perusahaan fiktif (paper company) miliknya sendiri.

Third media

http://antikorupsi.org/eng/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=371

An Extradition Treaty is Not Enough
Contributed by
Selasa, 22 Pebruari 2005
Bambang Sutrisno is one of the targets pursued by a team of corruptor hunters who managed to escape abroad. The ex-
Deputy Commissioner of Bank Surya who was sentenced to life imprisonment by the Central Jakarta District Court went
to Singapore for medical reasons. There, he filed an appeal.
"His appeal was turned down because his power of attorney was not valid because it wasn't processed through the
embassy," said Bambang's lawyer, Salim Muhamad. Since then he has not had any contact with Bambang. The appeal
efforts stopped because Bambang dared not make a power of attorney through the Indonesian embassy in Singapore.
"He was afraid to enter Indonesian territory, afraid of being captured," said Salim.

From his relative who visited Indonesia, Salim heard a whisper that the life fugitive had become a Singaporean citizen
two or three months ago. "I don't know for sure, I just heard it from his relative," he said. However, still according to the
relative, Bambang who was accused of embezzling Bank Indonesia liquidity assistance funds in the amount of Rp1.5
trillion spends more of his time in China.

Another high-class debtor living in Singapore and suspected of having become a Singaporean citizen is Agus Anwar.
The former owner of Bank Pelita and Bank Istismarat owes US$47.3 million to the Indonesian Bank Restructuring
Agency (IBRA). This makes it hard for the government to recover state money from Agus Anwar's hands.

The Singapore Foreign Ministry in its official statement in April 2004 said that citizenship status does not mean that no
one could file a lawsuit against a person in a Singapore court. They cited as an example Pertamina's victory over Kartika
Thahir in a Singapore Court in 1994.

In addition to Bambang and Agus, another debtor living in Singapore is Sjamsul Nursalim. The owner of Bank Dagang
Nasional Indonesia and the Gajah Tunggal Group owes the state, through IBRA, Rp28.4 trillion. Because he was
deemed uncooperative in settling his debts, the "king of shrimps" was interrogated by the Attorney General's Office.

Sjamsul insisted he was not guilty. According to him, all his debts had been paid in full in assets placed in PT Tunas
Sepadan Investama, including PT Dipasena, whose value later turned out to be only Rp5.2 trillion, far below the original
claim of Rp19.9 trillion. Sjamsul went to Singapore while under investigation and was detained for a day during Attorney
General Marzuki Darusman's tenure.

After one night in prison, he asked for permission to seek medical treatment in Japan. Sjamsul was indeed hospitalized in
Kokura Memorial Hospital, Tokyo. However, afterwards he was discovered to have been living in Singapore. During
Megawati's term, Sjamsul received a termination of investigation letter (SP3). At the end of December, President Susilo
Bambang Yudhoyono asked Attorney General Abdul Rahman Saleh to settle the five high-level corruption cases. One of
them is the suspicion of corruption case against Sjamsul Nursalim.

Today, it is estimated there are other corruption suspects that are also living in Singapore. Several names are believed to
be there, such as Irawan Salim (the Bank Global case) or Sujiono Timan (the Bahana case). It seems that an extradition
treaty is hardly enough. The policy and the prosecuting office must also be serious in hunting them down. It has been
repeatedly proven that journalists are more expert at finding these fugitives than law enforcement officials.(LT)

Source: Tempo Magazine, No. 25/V/Feb 22 - 28, 2005

Fourth media

http://www.kier.kyoto-u.ac.jp/coe21/dp/151-160/21COE-DP157.pdf



Bambang Sutrisno and Hansen Sutrisno

Bambang Sutrisno's Interpol Red Notice

http://www.interpol.go.id/id/dpo/red-notice/373-bambang-sutrisno

BAMBANG SUTRISNO
Kamis, 23 Desember 2010 16:48    PDF Print E-mail
Nama Keluarga : SUTRISNO
Nama : BAMBANG
Jenis Kelamin : Laki-laki
Tanggal Lahir : 10 September 1941
Tempat Lahir : Jakarta, Indonesia
Bahasa : Indonesia, Inggris
Kewarganegaraan : Indonesia
Kejahatan : Korupsi
                    

Saturday, 7 July 2012

Singapore – Safe haven for Asian fugitives.

Singapore – Safe haven for Asian fugitives.

At first glance, Bambang Sutrisno looks like your average Indonesian Chinese. Born in 1941 and of slight build, he walks along the streets of Singapore just like any other tourists from Indonesia.



However, Bambang Sutrisno is anything but your average Indonesian Chinese. Convicted of corruption in Indonesia, sentenced to life imprisonment and with an Interpol Red Notice issued against him, he is one of Indonesia's top wanted fugitives. Like many other Indonesian fugitives, he resides in Singapore.

Bambang Sutrisno together with brother Benny Suherman made their fortunes by linking up with Suwikatmono, the cousin of then President Suharto, to established PT Suptan Film. PT Suptan Film gave birth to Cineplex 21, which hosted 650 movie screens in Indonesia.

Due to disagreements, Benny Suherman and Bambang Sutrisno's relationship turned hostile in the mid 1980s. Bambang left PT Suptan Film to start up his own supermarket chain business, the well-known Golden Truly chain, in Indonesia. Bambang Sutrisno then joined the banking business and set up Bank Surya. In both Gold Truly and Bank Surya, Suwikatmono – cousin of President Suharto -- was once again involved as a partner and shareholder.

In 1997, during the economic financial crisis, the Indonesian government gave banks such as Bank Surya funds as a buffer against the crisis and Bambang Sutrisno embezzled Rp1.5 trillion from the Bank Surya and fled to neighboring Singapore.

Bambang Sutrisno was convicted of embezzlement in absentia in 1999 and sentenced to life imprisonment.

Meanwhile, for more than almost two decades now, Bambang Sutrisno has been living the high life in Singapore. He has two sons and a daughter.






His youngest son, London-and-Singapore-educated Hansen Sutrisno was born in Indonesia in 1985 and attended schools in Singapore. With his ill-gained money, Bambang Sutrisno sent his youngest son Hansen Sutrisno to attend Kuo Chuan Presbyterian Secondary School in Singapore before attending Kings College London and City University in the United Kingdom where he read his Bachelor's and Master's degrees in Management – all paid for with stolen money.

The Indonesian government has tried to extradite Bambang but Singapore argues that because its laws are based on English common law and Indonesian law is based on Dutch codes, the two systems are incompatible, making an extradition treaty difficult.

And recently, Hansen Sutrisno has found employment in one of Singapore's largest banks as well – allegedly the OCBC bank.

For Indonesian Chinese dragon sons such as Hansen Sutrisno, it seems that it doesn't matter where daddy's golden spoon comes from, as long as Daddy keeps feeding them well. And that seems to be the stance Singapore is adopting as well when it comes to Asian fugitives.





































































http://forums.vr-zone.com/chit-chatting/2259579-singapore-safe-haven-asian-fugitives.html
http://sgforums.com/forums/10/topics/454201?page=1
http://forum.channelnewsasia.com/showthread.php?115777-Singapore-%96-Safe-haven-for-Asian-fugitives.
http://forums.hardwarezone.com.sg/eat-drink-man-woman-16/singapore-%96-safe-haven-asian-fugitives-3777751.html
http://forum.lowyat.net/topic/2392012/all
http://groups.yahoo.com/group/Sg_Review/message/8437